Jumat, 12 November 2010

cerpen : harta,cinta, dan kesepian

Aku membuka mataku, sudah pagi rupanya. Cahaya matahari yang masuk lewat celah-celah jendela kamarku. Aku bangkit dan langsung mengambil ponsel, banyak missed called dan sms dari cewek-cewek yang hanya menginginkan harta ayahku.
Aku keluar kamar dan menuruni tangga menuju meja makan. Aku duduk sendirian di ruang makan yang cukup menampung 20 orang ini. Buat apa sih ayahku membuat rumah yang begitu besar jika hanya tiga orang yang tinggal di rumah ini? Hanya aku, Sherry dan mbok Sum.
Tak lama Sherry turun dari tangga dan memelukku dari belakang lalu mencium pipiku, “Pagi Kak.”
“Pagi. Mau makan apa?”
“Terserah aja. Mama-papa belum pulang ya?”
“Belum, katanya mereka masih di Singapore, ada bisnis papa yang belum selesai.”
“Oh..”
Dasar orang tua enggak tahu diri! Tega banget ninggalin anak-anaknya yang masih smp dan sma hanya untuk mencari uang. Aku sedih melihat Sherry yang selalu sendiri jika aku ada eksul di sekolah dan mbok Sum sedang ada kerjaan.
“Nih Kak Aryan.” kata Sherry memberikan roti selai coklat padaku.
“Thanks, oh ya, ada telpon buat kakak ga? Kemarin kakak ngerayain ultahnya Benji, trus lupa bawa hp”
“Ada, kalo nggak salah dari Reni, Mita, Sarah, Nita, Yanti, Lia, sama satu lagi siapa gitu, aku lupa abis enggak jelas sih suaranya.”
“Itu aja?”
“Kayanya sih, kapan si Ka Aryan mau serius sama satu cewek? Jangan jadi playboy terus ah Kak.”
“Iyaa anak kecil, kakak akan berenti kok kalo udah nemuin yang the one, janji deh.” kataku sambil mengunyah sisa terakhir dari rotiku
“Iya-iya terserah deh.”’
Aku beranjak dari kursi dan mengacak-acak rambut Sherry, “Kakak mau langsung mandi terus ke café, kamu mau ikut?”
“Enggak, aku mau nonton Ka Benji main basket.”
“Benji? Jangan bilang…”
“Apaan sih kak, udah ah, mandi sana, dasar nyebelin.
Aku tertawa sambil menaiki tangga, ternyata Sherry suka sama Benji, nggak nyangka juga, entar aku jodohin ah.
***
“Mas Aryan mau jadi pelayan? Mana mungkin bisa mas, anda itu yang punya café ini.” Kata Pak Rusli cemas
“Udah biarin aja, aku lagi enggak ada kerjaan, lagian ini khan hari minggu, ya enggak?” kataku sambil memakai baju pelayan.
“Saya harus bilang apa sama Tuan?”
“Ya..enggak usah bilang sama papa” kataku sambil berjalan keluar ruang staff dan mengambil menu. Aku menuju meja yang berada di pojokan paling dekat matahari. Aku sudah perhatikan perempuan itu, hanya memesan iced lemon tea dan cherry pie. Dia selalu sendiri dan hanya di temani laptop.
“Mau pesan apa?” tanyaku padanya dengan senyuman andalanku, jarang ada perempuan yang selamat dari senyumku ini.
“Iced lemon tea dan cherry pie” jawabnya ketus tanpa senyum di bibir indahnya.
“Ada lagi?”
“Tidak terima kasih.”
Kuat juga pertahanan perempuan ini, dia hanya melihatku tanpa ekspresi. Bahkan ia hanya melihatku sekilas. Lihat saja, aku pasti bisa mendapatkannya.
Aku membawa pesanannya dan menaruhnya di meja. Aku tersenyum sekali lagi. Tapi dia sama sekali tidak melihatku dan sibuk terhadap laptopnya.
“Lagi ngapain mbak?”
“Bukan urusanmu, tolong jangan ganggu saya.”
“Tapi saya ingin berkenalan dengan anda. Boleh?”
“Boleh asal kamu membelikan saya sepuluh cheery pie, sepuluh black forest, dan sepuluh cheese cake”
Yah, cewek ini matre juga, jadi males deketinnya, tapi yah, untung kamu cantik. Pengen juga nyenengin kamu.
“Baik, tapi kamu pulang bareng aku ya.”
“Boleh, di bungkus ya.”
“Niat pulang jam berapa?”
“Kok nanya aku? Bukannya kamu baru boleh pulang jam 5 sore?”
Oh iya, gw lupa gw pelayan sekarang. Aku tersenyum. “Ya sudah. Jam 5 kalau begitu.”
Akhirnya jam 5 datang juga, aku sudah memakai baju andalanku, kemeja dan celana hitam. Bukannya gr, tapi setiap perempuan yang melihatku begini pasti luluh deh. Aku mengahampirinya yang sudah siap-siap pulang.
“Ayo pulang” kataku.
“Dia melihatku dari atas ke bawah lalu naik lagi keatas. Lalu dia tersenyum. Nah khan! Aku tahu dia bakal lalu.
“Ngapain kamu pake baju item-item begitu? Mau ngelayat mas? Lagian lama banget ganti baju doang, buang-buang waktu aku aja, bawain tuh bungkusan makanan yang kamu beliin tadi.”
Aku terdiam. Baru kali ini kau bertemu perempuan aneh seperti dia. Bukannya di puji malah di ledek lagi, disuruh bawa-bawa pula. Dasar cewek aneh.
“Tempat tinggalku dekat, kita jalan kaki saja, Cuma 10 menit dari café ini.”
Gw disuruh jalan kaki sambail bawa bungkusan sebanyak ini?
“Kita naik taksi aja ya, kasian kamu capek kalo jalan.” Kataku
“Buang-buang duit tahu, udah kita jalan aja, kenapa? Nggak kuat bawa bungkusan itu?”
“Kuatlah, masa enggak kuat sih, ini sih ringan” kataku. Mati aku, tanganku udah mati rasa nih
“Oh masih kuat. Ya udah nih, tolong bawain ya” katanya sambil mengalungkan tas laptopnya padaku. Mati aku!
Sepanjang perjalan dia lebih banyak berbicara dari yang kusangaka. Lebih tepatnya dia meledek ku.
“Oh ya, nama kamu siapa?” tanyaku
“Dinda.”
“Nama panjangnya?”
“Ardindra, emang kenapa?”
“Ga papa”
Ardindra? Kayanya ga asing deh nama itu dan ketawa cewek ini juga familiar banget.
“Nah sudah sampai”
Kami berhenti di depan sebuah rumah panti asuhan dimana banyak anak-anak kecil yang sudah menunggu kami.
“Ka Dinda!!” seru mereka sambil berlarian kearah dinda dan memeluknya.
“Sudah-sudah, nih kakak bawa kue buat kalian, ayo ambil satu-satu.”
Aku memberikan mereka kue satu per satu. Ternyata dia tinggal di panti asuhan dan kue-kue ini untuk adiknya. Baik juga perempuan ini.
“Ayo berterima kasih dulu sama ka Aryan yang udah beliin buat kalian.”
“Makasih ya ka Aryan” kata mereka bersamaan lalu langsung masuk ke dalam panti.
“Iya sama-sama”
Emangnya aku udah sebutin nama aku ke dia ya? Ah sudahlah. Mungkin sudah.
“Terima kasih ya Aryan, aku masuk dulu.”
“Tunggu, besok kamu ke café?”
“Mungkin.” Jawabnya sambil tersenyum.
Aduh, senyumnya manis banget. Udah cantik, seru, nggak matre lagi. Dinda..liat aja, kamu pasti jadi miliku!
***
Sudah hampir 4 bulan ini aku berpura-pura jadi pelayan dia caféku sendiri. Seperti orang bodoh memang, tapi apa boleh buat. Sudah dua sebulan ini aku pacaran dengan Dinda. Belum pernah aku selama ini dengan satu perempuan. Dua hari juga sudah bagus. Sejak hari itu, setiap pulang sekolah aku langsung menuju café. Benji sampai marah-marah karena nggak bisa nebeng pulang.
“Ini pesanannya” kataku sambil memberikan raspberry pie.
“Aku enggak mesan.”
“Aku traktir.”
“Kamu pelayan yang banyak uangnya juga ya. Kamu kerja buat apa?”
“Buat iseng, maksudku buat nyari uanglah, kalau kamu?”
“Sama. Buat anak-anak panti. Kalau dalam waktu dekat aku enggak bisa ngasih biaya yang yang di perlukan, panti itu akan di gusur. Dasar orang kaya enggak tau diri! Enggak tau apa susah nyari uang? Makanya aku paling males kenal sama orang kaya, Cuma bisa seenaknya!”
Aku terdiam. Bagaimana ini? Kalau dia tahu aku anak orang kaya bagaimana?
“Din, sebenernya aku—“
Kata-kataku terpotong panggilan di ponselku. Dari papa.
“Halo? Ya, apa? Papa udah di Jakarta? Aku ada di café, iya aku segera pulang, hah ada pesta? Ya sudah. Dah.” Kataku dalam bahasa perancis karena ayahku memakai bahasa itu duluan. Aku lupa di depanku ada dinda.
“Bahasa perancis?” tanya dinda
“E..itu aku kursus bahasa perancis.”
Tiba-tiba pak Rusli datang,” Tuan muda! Mengapa anda masih disini? ayah anda sudah menunggu di rumah, pestanya sudah mau di mulai, haduh, saya bisa di pecat ini, bagaimana kalau ayah anda tau anda jadi pelayan disini?”
“Tuan muda? Pesta? Pecat? Apa maksudnya?” tanya Dinda
“A-aku bisa jelasin Dinda.”
“Kamu anak orang kaya?”
“I-itu..”
Dinda langsung beranjak dari kursi dan membereskan laptopnya. Aku menahanya.
“Dinda, aku enggak maksud bohong, sumpah!”
“Trus apa?”
“Lagipula kamu enggak pernah nanya khan?”
“Oh, jadi ini semua salah aku? Yang aku tahu, kamu itu Aryan seorang pelayan di café ini, bukan Aryan yang seorang tuan muda!”
“Bukannya bagus aku orang kaya? Aku bisa ban—“
Dinda menamparku, “Maaf, aku bukan perempuan yang melihat laki-laki hanya dari hartanya, tapi dari hati dan kejujurannya.”
Dinda pergi meninggal café dan sejak itu dia tidak pernah kembali lagi. Dua minggu sudah berlalu. Aku sudah mencarinya ke panti tapi katanya Dinda tidak tinggal disana. Hingga suatu sore aku bertemunya di taman kota sedang memotret anak-anak yang sedang bermain.
Saat melihatku ia berhenti memotret. Aku menghampirinya.
“Hai.”
“Kamu siapa?” tanya Dinda padaku. “Siapa kamu sebenarnya?”
Aku menari nafas panjang. “Aku Arya Nurangga Hardiono. Ahli waris dari Hadiono Group. Aku anak orang kaya dan pernah tinggal di paris selama 5 tahun.”
“Rasa sayang ke aku itu juga bohong?”
“Tidak!”
Dinda memelukku erat, “Akhirnya kamu ngaku juga. Dasar cowok bodoh!”
“Maksudnya?”
“Aku tunggu di rumahku ya nanti malam, jangan nggak datang.”
“Tapi aku enggak tahu rumah kamu. Aku cuma tahu panti.”
“Tenang saja, papa kamu tahu kok.”
Lalu dinda pergi dan meninggalkan aku dalam kebingungan. Aku pulang dan orang rumah sudah sibuk.
“Aryan! Kok kamu masih lecek gitu sih? Ayo cepat mandi dan siap-siap, kita harus pergi ke rumah pak Fajrian.” Kata papa
Aku menurut dan langsung memakai baju yang sudah disiapkan untukku. Setelah satu keluarga siap, kami langusung berangkat dan sampai di rumah yang besarnya hampir sama dengan rumahku.
“Om Fajrian ini siapa pa?”
“Dia partner papa 5 tahun terakhir.”
Kasian anaknya, pasti kesepian kaya aku dan Sherry. Kami turun dan acara sudah dimulai.
“Kita semua hadir disini untuk merayakan kembalinya anak tunggal dari Bapak Fajrian Rotenvelt dari London, kita sambut Ardindra Cleo Rotenvelt!” seru MC.
Aku kaget melihat Dinda yang menuruni tangga dengan pakaian bak putri raja, ia terlihat cantik, amat cantik malah. Ternyata dia anak orang kaya juga. Rese juga nih cewek.
Menjelang malam Dinda baru menghampiriku.
“Selamat malam tuan muda Hardiono group.”
“Selamat malam juga nona muda Rotenvelt corporation.”
“Kamu marah ya?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Iya, aku bohong. Kenapa kamu marah ke aku padahal kamu melakukan hal yang sama?”
“Hanya ingin memberimu pelajaran.”
“Buat apa?”
“Habis kamu lupa sama aku sih, trus kamu jadi playboy dan lupa janji kita, khan aku jadi bt!”
“Janji apa? Bukannya kita pertama kali bertemu di café?”
“Tidak dasar bodoh! Kita pertama kali bertemu di London, waktu kita umur 6 tahun, dan kamu berjanji akan menemuiku di taman kota saat kita berumur 17 tahun dan kamu tidak datang! Padahal aku menunggu dari pagi!”
Pantas perempuan ini sangat tidak asing. Ternyata dia temanku waktu kecil dasar bodoh.
“Hari-hari berikutnya juga aku tunggu, tapi kamu tetap tidak datang. Padahal aku sudah telpon kamu sehari sebelum aku kembali ke Indonesia.”
Ternyata yang menelpon itu dia, yang kata Sherry tidak jelas suaranya. Aku tertawa aku jadi merasa bodoh.
“Jadi dari awal kamu tahu aku anak orang kaya?”
“Tentu saja, makanya aku mengerjaimu.”
“Dasar anak nakal!” kataku. Lalu aku memeluknya di tengah orang banyak. “Jangan pernah lari lagi dariku. Jangan pernah.”
“Iya aku janji. Selama kamu enggak lupain aku lagi.”
“Iya aku janji.”
Lalu dentingan musikpun di mulai dan aku mengajak Dinda untuk berdansa. Sekarang aku mengerti arti kesetiaan dan kejujuran. Hal yang tidak bisa di beli dengan uang sebanyak apapun.
“Eh, kenapa waktu itu kamu selalu bilang tinggal di panti? Jahat sekali kamu menganggap orang tuamu sudah tidak ada.”
“Kamu kaya enggak tau aja penyakit anak-anak orang kaya. Kesepian. Kalau di panti aku selalu merasa ramai dan senang.”
“Oh begitu..” kataku mengerti

Tidak ada komentar: